Sabtu, 28 Januari 2012

Monolog seorang gadis gelandangan

Sore hari seorang gadis kecil tidur di bawah jembatan beralaskan kardus di tengah lalu lalang kendaraan , ditemani deru suara klakson mobil dan motor yang saling bersahutan, diwarnai kabut dari asap kendaraan. Ia sendirian, dalam keramaian. Tiba – tiba ada seseorang yang melempar bungkusan kecil dari atas jembatan. "Aduh". Dengan penuh penasaran dia menengok ke atas. “ Siapa itu ? “ ( dan matanya mulai tertuju pada bungkusan kecil tadi, dan dibukanya perlahan ) “ Makanan “ ( dengan wajah berbinar dia mulai memakan makanan itu dengan lahap ) “ Terima kasih Tuhan, engkau telah memberikan makanan padaku sore ini “

Karena makan terlalu lahap, dia tersedak sambil memegangi lehernya dan mencari – cari air, dia melihat air mineral di pojok jembatan, segera dihampirinya dan meminum dengan cepat. Tetapi belum sempat dia memuaskan dahaga, air mineral itu tumpah. “ huh, sungguh sial nasibku ini, bahkan belum terpuaskan dahagaku “ Ketika dia sedang memandang jalan sore, matanya tertuju pada sekumpulan remaja berseragam putih abu, kemudian dia berdiri untuk mengobati rasa penasarannya terhadap remaja – remaja itu.
"Mengapa begitu sesak dadaku melihat mereka ?" “ Irikah aku terhadap mereka ? “ “ Jelas aku iri ! “ ( sambil tertawa sinis ) “ Tuhan aku ingin bisa seperti mereka, merasakan kehidupan layaknya manusia.” Ia terdiam dalam gemetar.
Ia terisak menangis “ Mereka dapat mengisi kehidupan dengan tawa, merasakan hangatnya pelukan orangtua, dan mempunyai tempat tujuan pulang, mereka bisa kenyang saat mereka merasa lapar, beruntungnya mereka dapat mengenyam pendidikan. “ Memegang dadanya yang sesak lalu menghela nafas “Aku ?! Ibu dan ayah membuangku bagai sampah mereka tak inginkan keberadaanku di dunia ini, setiap hari panas matahari kubiarkan membakar kulitku ,air hujan kubiarkan menetes masuk melalui pori-pori kulitku medinginkan hati dan jiwa ku. “ Berdiri lalu melihat keatas “Apakah ini adil bagiku ?”

“Apakah aku hanya tercipta untuk hidup yang sia-sia seperti ini ?” “Tuhan……………….. ( Menjerit, menangis sambil menutup kedua telinganya) Jongkok bersujud lalu bangun dari sujudnya dan berdiri “Arghhhhhhhhhh… Aku benci sendirian di dunia ini aku lelah menjadi pengemis yang selalu dipandang rendah dan diremehkan, Aku iri Ya Tuhan iri kepada mereka yang mempunyai kehidupan sangat sempurna Argh Argh Arghhhh… “ duduk berjongkok menangis dalam dekap dirinya sendiri.. “Tuhan kirim aku malaikatmu, biarkan dia mencabut nyawa ku.” Gadis ini kemudian bangun berjalan menaiki tangga jembatan menuju keramaian jalan raya menyebrang asal-asalan tanpa mengetahui ada truk melintas cepat dari arah barat menuju dirinya.
 Tiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn………………………….. “Tuhan terima kasih Engkau kabulkan doa ku….” Gadis malang itu meninggal di tengah keramaian dalam kesendirian hidupnya.