DAN.
ketika sedang sibuk mengejar tugas kuliah, badan kurus ku yang kurasa kuat menahan beban apapun terpuruk tersungkur badai flu. hiks :'(..
saatnya memngistirahatkan sejenak tubuhku..
iseng-iseng ngoprek file. Eh nemu ini :p
drama penuh kenangan indah, saat itu sekolah ku membuat event untuk memperingati hari kartini, dan ada lomba antar kelas , aku bersama mereka bermain drama ini.
sungguh moment saat SMA yang NGENA BANGEEUUUTSS :'D
drama ini buatan tangan sahabat, NAA :)
***
Saat aku jadi ZEUS :')
Istana Kerajaan Apollo terlihat begitu
cantik dan menawan dengan bangunan yang terbuat dari emas asli. Bangunan tua
yang sudah berdiri sejak zaman pesaingan polis Sparta dan Athena di Yunani itu, masih sangat
megah dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan runtuh.
Astaga, dia—Aphrodite—tidak pernah bosan memperhatikan Istana Kerajaan Apollo
dari jendela kamarnya yang reyot. Ia selalu melamun membayangkan dirinya sedang dansa romantis bersama
Pangeran Zeus, putra mahkota dari Ratu Minerva dan Raja Hermes. Walaupun
berkali-kali Ares dan Archilles—kakak kandung Aphrodite—mengatakan itu hal yang
mustahil, tapi Aphrodite yakin ia bisa mewujudkan impiannya.
Bagaimana pun juga, Ares dan Archilles tidak ada hak
untuk menghalangi keinginan Aphrodite. Ia memang seorang perempuan yang sudah
di tinggal orang tuanya sejak kecil. Tapi ia akan terus berusaha untuk
menggapai keinginannya.
* * *
Sore yang mendung di pedesaan Syria,
Aphrodite dan temannya—Amon Ra—sedang bermain boneka di dalam rumah.
“Hei, Aphrodite! Coba lihat boneka ku,” seru Amon Ra mengangkat boneka
berbentuk beruang coklat. “Ibuku kemarin membelikan boneka ini di pasar,”
Aphrodite mengambil boneka Amon Ra. Kepalanya miring ke kiri lalu ke kanan
dengan satu alis terangkat. Ia
kemudian menatap temannya. “Binatang apa ini?”
“Ini beruang, Aphrodite! Apa kamu tidak pernah melihat
boneka seperti ini di pasar?!” sahut Amon Ra marah sambil merebut kembali
bonekanya.
Aphrodite menggaruk-garuk pipinya. “Aku memang sering melihat boneka seperti
ini di pasar. Tapi selama ini, aku pikir boneka itu coklat raksasa! Habis,
setahuku beruang itu warnanya hitam,”
“Bodoh,” gumam Amon Ra datar.
Tidak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan masuklah Ares dan Archilles.
“Halo, Aphrodite!” sapa Archilles ramah. Ia tersenyum menghampiri adik
perempuannya. “Wah, ada Amon Ra juga,”
Amon Ra tersenyum simpul. “Halo, kak Archilles,”
“Cih, bermain boneka lagi. Kalian berdua itu tidak ada permainan lain apa
selain bermain boneka? Buang-buang waktu saja,” komentar Ares sambil bersedekap.
Ares memang kakak yang sedikit kasar.
Archilles menepuk bahu Ares. “Ayolah, Res. Mereka itu perempuan. Tidak mungkin kan mereka bermain
pedang-pedangan?”
“Nah, itulah! Punya adik perempuan itu tidak menguntungkan sama sekali. Mereka
itu bisanya hanya menyusahkan kita saja!” seru Ares kini berkacak pinggang.
“Enak saja! Kak Ares jangan sembarangan bicara,” amuk Aphrodite merasa di
rendahkan. “Walaupun aku perempuan, aku bisa hidup mandiri . Perempuan itu
tidak menyusahkan, kak Ares!”
Ares melongos, acuh tak acuh mendengar pembelaan Aphrodite. “Tapi tetap saja
perempuan itu manja! Dan tugasnya hanya di rumah!”
“Tidak! Perempuan juga boleh
bermain keluar!”
“Tidak boleh, Aphrodite!”
“Boleh!”
“Tidak!”
“Boleh!”
“Tid—“
“Berhenti!” seru Archilles dan Amon Ra bersamaan. Ares dan Aphrodite yang
sedang ngotot-ngototan terpaksa memandang Archilles dan Amon Ra bingung.
Archilles menghela napas. “Demi Neptunus, kalian harus berhenti bertengkar!”
“Iya,” sahut Amon Ra mangut-mangut. “Lagipula, bukankah
Aphrodite jago sekali bermain ped—ugh!”
Ares dan Archilles saling berpandangan bingung ketika Aphrodite refleks menutup
mulut Amon Ra.
“Ah, jangan di dengar. Dia ngelindur,” kata Aphrodite sambil tertawa kaku.
“Hah, dasar perempuan aneh! Lebih baik aku bermain keluar saja!” seru Ares
segera berderap keluar rumah.
“Sana keluar!
Main gulat-gulatan saja bersama macan!” teriak Aphrodite tidak mau kalah.
Archilles menggelengkan kepalanya lelah.
Ares dan Aphrodite memang selalu saja berbeda pendapat masalah status perempuan
dan laki-laki.
“Bukannya aku mendukung Ares, Aphrodite,” kata Archilles halus. “Tapi,
perempuan memang di takdirkan untuk berdiam diri di rumah,”
* * *
Hutan yang sepi di pinggiran desa Syria, penuh dengan binatang buas
dan para pemburu daging rusa. Seorang Pangeran sedang berlatih memanah
sendirian tanpa di dampingi para pengawalnya.
“Aduh!” rintihnya sambil memperhatian panahan di tangannya. “Bagaimana sih
caranya menggunakan benda ini? Huft, para pengawal tidak pernah mau melatihku
menggunakannya!”
Dengan bodohnya, Pangeran Zeus mengarahkan panahan di tangannya ke arah
wajahnya sendiri. Benar-benar seperti orang bodoh.
“Huh, Aphrodite itu menyusahkan sekali,” keluh Ares masuk ke dalam hutan.
“Kenapa sih Paman dan Bibi tidak menyuruhnya tinggal di asrama sekolah saja?”
“Jangan begitu, Res. Biarpun Aphrodite itu keras kepala, tapi dia tetap adik
kita!” sahut Archilles menyusul di belakang.
Ares mendengus sebal. Mendadak matanya membesar ketika melihat Pangeran Zeus
sudah hendak melontarkan panahan ke wajahnya sendiri.
“Hei, apa yang kau lakukan?!” pekik Ares segera menjatuhkan panahan dari tangan
pangeran Zeus. Archilles menahan tubuh Pangeran Zeus yang oleng.
“Lho? Pangeran Zeus?” gumam Archilles membantu Pangeran Zeus berdiri. “Sedang
apa Pangeran disini?”
Ares memungut kembali panahan yang tadi di buangnya sendiri lalu
memperhatikannya. “Huh, kalau mau bunuh diri, langsung saja terjun ke jurang.
Panahan ini terlalu mahal untuk di buat senjata bunuh diri,”
“Hei, Ares! Ini Pangeran Zeus, kamu lupa? Kita kan pernah bertemu dengannya di pernikahan
Bibi Ven,” kata Archilles menarik lengan Ares.
“Oh ya?” beo Ares.
Pangeran Zeus menerawang mengingat siapa kedua pemuda di depannya ini. “Ah! Aku
ingat. Kalian Ares dan Archilles kan?
Tamu di pernikahannya Paman Richard,”
“Wah, bagus deh kalau Pangeran ingat,” kata Archilles. “Tapi, sedang apa
Pangeran disini? Dan, tanpa pengawal pula,”
“Ah, biasanya kalau seorang petinggi di kerajaan keluar dari istana tanpa
pengawal, itu tandanya ia kabur! Pangeran Zeus, kau kabur dari istana?” tebak
Ares.
Pangeran Zeus menggelengkan kepalanya yakin. “Aku tidak kabur. Tapi aku hanya
keluar dari istana secara diam-diam,”
Ares dan Archilles kembali berpandangan. “Sama saja,”
“Oh ya, kalian bisa bermain panahan? Aku ingin sekali bisa menggunakan ini,”
kata Pangeran Zeus mengambil panahan lalu memanah dirinya sendiri lagi.
Tapi sebelum panahan itu menusuk wajah Pangeran Zeus, Ares dan Archilles segera
menjauhkan panahan.
“Aduh, ada apa sih kalian ini?” kata Pangeran Zeus sebal.
“Orang ini tidak terlihat seperti seorang pangeran,” bisik Ares pada Archilles
yang mengangguk. “Bodoh sekali,”
“Yang benar menggunakan panahan itu seperti ini,” jelas Ares merenggangkan
panahan ke arah Pangeran Zeus. Sungguh, Ares tidak bermaksud memanah Pangeran
Zeus. Ia hanya ingin memberi contoh yang benar.
Tapi sepertinya orang lain tidak berpikir demikian.
Gubrak!
“Hei, kalian! Apa yang sedang kalian lakukan?! Mencoba membunuh Pangeran Zeus?”
bentak seorang pria kasar dan membawa tombak tiba-tiba saja masuk ke dalam
hutan.
Pangeran Zeus yang mengenali wajah pria yang tadi membentak itu, terkejut dan
segera mencari akal untuk kabur. Sementara Ares dan Archilles yang tidak
mengenali pria ini bingung setengah mati.
“A-apa? Aku membunuh Pangeran Zeus?” gumam Ares menurunkan panahan. “Jangan
sembarangan bicara! Aku hanya—“
“Alah, alasan! Bilang saja kau anak dari salah satu rakyat jelata yang iri
dengan kekayaan Pangeran Zeus!” sahut seorang pria lain mendadak ikut datang ke
dalam hutan.
Archilles, yang ingat dua pria ini adalah pengawal pribadinya Pangeran Zeus,
cepat-cepat menghampiri Pangeran Zeus bermaksud menyuruhnya menjelaskan maksud
Ares memanah tadi. Tapi Pangeran Zeus yang sudah muak tinggal di istana, malah
berlari seakan-akan takut di hampiri Archilles.
“Pangeran Zeus!” panggil Archilles tapi setelahnya merintih kesakitan karena
tangannya di pelintir ke belakang oleh si pengawal. Ares melakukan hal yang
sama oleh pengawal yang lain.
“Lihat apa yang kau lakukan,” kata pengawal. “Pangeran Zeus sampai ketakutan
karena ulah kalian!”
“Tapi kami tidak—“
“Bicara nanti di depan Ratu Minerva!”
* * *
Taman desa Syria
biasanya sangat ramai oleh anak-anak kecil yang bermain bersama teman-temannya.
Tapi karena awan mendung berarak di mega, taman Syria yang asri begitu sepi dan
dingin.
“Huh, kak Ares itu,” kata Aphrodite sambil mengangkat pedang metalik miliknya.
“Seenaknya saja bilang perempuan itu tidak boleh keluar rumah. Memangnya
perempuan tidak berhak melakukan hal yang dia inginkan? Hei, jangan salah.
Biarpun kata orang perempuan itu lemah, tapi aku tidak seperti itu!”
Suara Aphrodite terdengar sangat jelas di taman Syria. Ia baru saja akan berlatih
menggunakan pedang seperti hari-hari biasanya, tiba-tiba saja Amon Ra muncul
dengan napas yang memburu.
“Aphrodite! Kabar baik!” seru Amon Ra setelah sampai di dekat Aphrodite. Ia
membungkuk sambil mengatur napasnya yang kacau.
“Kau ini kenapa sih, Amon Ra?” tanya Aphrodite merasa terganggu.
“Sungguh, Aphrodite! Ini benar-benar kabar yang baik!” pekik Amon Ra sudah
berdiri seperti posisi semula sambil tersenyum.
Satu asli Aphrodite terangkat. “Hah?” “Kau mau tahu apa itu kabar baiknya?”
tanya Amon Ra, tapi langsung berbicara tanpa menunggu jawaban. “Kak Ares dan
Kak Archilles di bawa oleh pengawal Pangeran Zeus ke penjara bawah tanah!
Kyaakk!”
Hening beberapa menit. Otak lambat Aphrodite segera bekerja. Setelah Amon Ra
menggerak-gerakkan tangannya di hadapan wajah Aphrodite, barulah dia sadar apa
yang sudah terjadi.
“Apa?! Kau bilang ini kabar baik?! Kau ini gila atau sinting?!” amuk Aphrodite
tanpa ampun.
Amon Ra menggedip-ngedipkan matanya lugu. “B-bukannya bagus kalau mereka tidak
mengganggumu lagi? Itu berarti kamu bisa berlatih pedan setiap hari disini
tanpa mengkhawatirkan mereka tahu,”
Aphrodite mendengus. Ia—dan wajah pucatnya—berjalan mondar-mandir sambil
berpikir, apa yang harus ia lakukan agar kedua kakaknya bisa pulang ke rumah
sebelum Bibi dan Pamannya pulang selesai kerja. Tiba-tiba langkahnya terhenti.
Ia berbalik badan sambil membayangkan istana Kerajaan Apollo yang ia biasa
lihat di jendela kamarnya.
“Kita harus kesana,” katanya dengan nada tegas.
“Kemana?” tanya Amon Ra.
“Ke pertambangan!” seru Aphrodite. “Ya ke istana Apollo! Kita harus
menyelamatkan kak Ares dan kak Archilles,”
Mendadak wajah Amon Ra berubah panik. “K-kita siapa?”
“Aku dan kamu!” seru Aphrodite. “Tunjukkan pada mereka kalau kita—perempuan
rumahan—bisa melakukan apa yang mereka lakukan!”
“Memangnya kau pikir mudah masuk ke dalam istana?! Pengawal-pengawal disana sangar!”
umpat Amon Ra, tapi setelahnya teringat sesuatu. “Hei, kenapa aku juga mesti
ikut?!”
“Karena kamu yang membawa kabar ‘baik’ ini!” sahut Aphrodite sambil menarik
lengan Amon Ra.
“Apa?! Bukannya berterimakasih, kau malah membawaku ke medan pertempuran? Teman macam apa kau ini!”
amuk Amon Ra tapi tidak di dengar oleh Aphrodite.
* * *
Suasana di istana Kerajaan Apollo sangat mencekam bagi Ares dan Archilles.
Mereka tadi hampir saja di taruh di penjara bawah tanah kalau Ratu Minerva
tidak memanggil mereka ke ruang tengah.
“Jadi, kalian yang menculik anak saya?” tanya Ratu Minerva dingin. Ia duduk di
kursi singgasana dengan angkuh. “Untuk apa kalian menculik Zeus? Apa kalian
membutuhkan uang?”
“Tidak, Yang Mulia Ratu,” jawab Archilles berani. Sementara tangannya masih
terikat dan kedua pengawal yang membawa mereka berdiri di samping mereka. “Kami
tidak membutuhkan uang dan kami tidak menculik Pangeran Zeus,”
Ratu Minerva bersedekap. “Jangan bohong! Zeus tidak mungkin kabur dari istana.
Dia pasti di bawa kalian ke hutan untuk di bunuh,”
“Apa buktinya, Ratu?!” pekik Ares benar-benar tidak terima.
“Bukti?” ulang Ratu Minerva. “Kau yang sedang memanah pada Zeus saja sudah
cukup bukti kalau kau ingin membunuh Zeus!”
Archilles menggelengkan kepala. “Tidak, Yang Mulia Ratu. Ares hanya ingin
membantu Pangeran Zeus berlatih menggunakan panah,”
“Bohong! Saya tidak akan percaya pada rakyat jelata seperti kalian!”
Emosi Ares tiba-tiba saja memuncak. “Ratu seperti apa yang menghina rakyatnya
sendiri seperti kau, Minerva?”
“Kau!” pekik Ratu Minerva berdiri dari singgasananya. “Berani-beraninya kau
memanggilku menggunakan nama! Pengawal, sekarang juga, bunuh mereka berdua!”
“Tunggu!” seru seseorang mengejutkan seluruh orang yang ada di ruang tengah.
“Jangan bunuh mereka!”
Ares dan Archilles adalah orang pertama yang tersadar. Senyum mereka merekah
kala melihat adik mereka masuk bersama Amon Ra. Aphrodite terlihat sangat gagah
dengan pedang di tangannya.
“Siapa kalian? Berani-beraninya kalian masuk ke dalam istanaku,” kata Ratu
Minerva berkacak pinggang.
“Sebelumnya, maafkan saya dan teman saya yang sudah masuk tanpa seizin, Yang
Mulia Ratu,” kata Aphrodite terengah-engah. “Tapi saya kesini untuk meminta
Yang Mulia Ratu, membebaskan kakak-kakak saya,”
Ratu Minerva tersenyum licik. “Oh, jadi kedua orang yang ingin membunuh Zeus
itu kakakmu ya?”
“Membunuh Zeus?” gumam Aphrodite bingung.
“Kalau kau ingin mereka bebas, coba kau lawan pengawalku yang gagah perkasa.
Pengawal!!” pekik Ratu Minerva menggema keseluruh istana.
Kedua bola mata Amon Ra melebar. Ia terkejut melihat seorang pria sedikit
sangar berjalan menghampiri ia dan Aphrodite.
“Habisi mereka,” perintah Ratu Minerva.
“Yes, my lord,” sahut pria sangar itu langsung mengeluarkan pedang miliknya
yang jauh lebih besar di banding yang di genggam Aphrodite.
Tanpa bisa di cegah, perkelahian pun terjadi. Aphrodite berusaha mati-matian
melawan pria menakutkan itu hanya demi Ares dan Archilles. Walaupun
kakak-kakaknya sering kali mengira dia perempuan yang lemah, tapi Aphrodite
tidak perduli. Ares dan Archilles tetaplah kakaknya. Dan ia harus mengeluarkan
mereka dari penjara.
“Aphrodite!” seru Amon Ra ketika Aphrodite lengah. Pria itu berhasil membuat
pedang Aphrodite terlempar jauh.
“Haha, mati kau sekarang!” pekik pria itu siap menikam Aphrodite.
Tapi sesaat sebelum pedang tajam itu menyentuh Aphrodite, tiba-tiba saja pintu
ruang tengah terbuka lebar-lebar.
“Hentikan!” pekik Pangeran Zeus cepat-cepat masuk ke dalam.
“Pangeran Zeus?” kata Ares dan Archilles bersamaan. Sementara Amon Ra terpesona
dengan paras Pangeran Zeus, Ratu Minerva sudah berlari menghampiri anaknya.
Pangeran Zeus menghela napas. “Ibu, tunggu dulu. Aku akan menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi disini,”
“Penjelasan?” beo Ratu Minerva.
Pangeran Zeus mengangguk lalu menjelaskan cerita yang sebenarnya. Ia
menjelaskan kalau Ares dan Archilles hanya ingin membantunya berlatih memanah
dan ya, Pangeran Zeus kabur dari istana. Ratu Minerva yang mendengarnya segera
menyesal dan menyuruh para pengawal untuk membebaskan Ares dan Archilles.
“Dan, sebagai permintaan maaf saya, kalian akan di undang ke acara pesta dansa
besok malam di aula istana. Saya akan menyuruh pengawal saya untuk menjemput
kalian,” kata Ratu Minerva melembut.
“Wah, aku benar-benar tidak menyangka!” seru Ares menatap Aphrodite. “Ternyata
selama ini kau bermain boneka bersama Amon Ra, hanya untuk menyembunyikan
keahlianmu berkelahi dan memegang pedang,”
Amon Ra terkekeh. “Maka dari itu, jangan sekali-sekali merendahkan perempuan!
Karena walaupun mereka terlihat lemah, tapi sebenarnya mereka mempunyai
kekuatan yang lebih hebat di banding kalian!”
“Kau juga hebat, Amon Ra,” timpal Archilles mengelus rambut Amon Ra. Anak itu
langsung tersenyum malu.
“Percaya kan
kalau aku bisa?” tanya Aphrodite puas. Ares tertawa lalu menganggukkan
kepalanya yakin.
“Hai, kau Aphrodite?” tanya Pangeran Zeus menarik perhatian Aphrodite. “Hmm,
bagaimana kalau nanti malam aku yang akan menjemputmu dirumah?”
Aphrodite memekik tertahan lalu mengiyakan ajakkan Pangeran Zeus. Impiannya
berdansa bersama Pangeran Zeus akan menjadi kenyataan. Ini seperti mimpi! Yeah,
sebuah impian tidak akan terwujud tanpa adanya usaha. Semangat!
“Kau akan datang bersamaku kan,
Amon Ra?” tanya Archilles. Amon Ra menganggukan kepala yakin. Sepertinya dia
menemukan kekasih baru.
Ares mendengus sebal.
“Oh bagus sekali, sepertinya aku yang akan datang sendiran. Apa ada yang mau
menemaniku ke pesta dansa?”
SELESAI