Jumat, 26 Juli 2013

Elamazaya berbagi

Assalamualaikum Wr.Wb
            Tidak bermaksud ria atau apapun itu, aku yang senang menulis, ingin menuliskan sesuatu hal yang sangat bisa menjadi pelajaran bagi saya
            Siang itu adalah hari Jumat, masih berada pada bulan Allah yang penuh berkah, Ramadhan. Didalam rumah Allah kami berkumpul, melakukan kegiatan mentoring bersama pementor kami, dalam tempat suci-Nya yang begitu nyaman kami bersama memperdalam ilmu agama. Setelah selesai mentoring , tiba-tiba tercentus dari salah seorang dari kami, sebut saja namanya Sheila(Eh, itu emang namanya :p)  untuk mengadakan kegiatan sosial, “Mumpung bulan Ramadhan!” katanya sumringah. Aku yang mendengar rencana mulia itu pada awalnya sangat bersemangat menanggapinya, tetapi kemudian terdiam lagi memikirkan bukankah butuh dana yang tidak bisa disebut sedikit jika mau mengadakan kegiatan sosial, sedangkan anggota mentoring ini hanya ada 7 orang, yang ketujuh-tujuhnya hanya mahasiswa biasa tanpa penghasilan sendiri, tidak lucu bukan meminta dana pada orang tua kami masing-masing untuk menutupi dana yang kami patok sekitar 1 juta rupiah.Terpikir usaha untuk mengumpulkan dana, lagi-lagi aku terpaku, bagaimana bisa dana terkumpul untuk kegiatan yang rencananya saja dadakan, dan deadlinenya sangat cepat. (kami memutuskan akan mengadakan buka puasa bersama dengan anak panti, pada hari senin di minggu berikutnya). Sedikit ragu, (Tidak ! tidak sedikit! Bahkan banyak ragunya!), aku hanya  takut kegiatan ini nantinya malah tidak maksimal. Tapi anggota kami yang keras kepala tetap berkeinginan untuk meneruskan niat kami ini, dia bilang “Kita harus yakin, biar orang lain juga yakin sama kita!”. “Hufff.. Bismillah kita jalan cari dana sekarang!” aku bersama 2 orang anggota mentoring lainnya, berencana akan keliling kampus menemui teman-teman, yang siapa tahu bisa membantu kami.
” Yah siapa tahu ..”
            Bagaikan sales  door to door  yang menjajakan dagangannya, hanya saja kami tidak punya barang yang akan didagangkan, tanpa proposal atau apapun itupun, kami menghampiri teman-teman, mengawali dengan salam kemudian menuturkan rencana kami yang ingin melakukan kegiatan sosial dan langsung to the point meminta bantuan dana. Aku yang bertugas menampung dana mereka, dan teman ku yang satunya lagi (Sebut saja Ratih .. hhee itu emang namanya :p) yang mencatat pemasukan kami. Sekitar 1,5 jam berjalan person to person not door to door, aku tercengang, entah ini dapat dana dari mana saja, tiba-tiba dana yang kami targetkan  sudah tertutup  hampir setengahnya“Tuh kan,..” kata Sheila. Two Thumbs up untuk teman aku yang satu ini, semangatnya, keyakinannya, mencerminkan anak muda. Jujur, aku jadi malu sendiri, karena merasa cuma anak muda dengan banyak keraguan dan pertimbangan. Mungkin jika aku memaksakan keraguan pada awal, rencana ini hanya akan jadi rencana. Dan kami bertiga memutuskan untuk membulatkan semuanya. Bismillah, ada Allah....
            Hari kedua, aku dan Sheila mengunjungi panti yang akan kami kunjungi, setelah berbincang dengan bapak Acep, salah seorang perwakilan pengurus panti ini mengatakan senang jika ada yang mau berkunjung dan berbuka bersama anak-anak. Perkataan itu membuat aku makin bulat ingin melakukan kegiatan ini, aku ingin mengenal mereka, bercengkrama dengan mereka, mereka yang lebih kecil usianya dari aku tetapi bebannya sudah sebegitu besar, hidup tanpa memiliki orang tua. Bapak Acep berkata sebaiknya kami melakukan buka bersama ini pada hari selasa saja, karena pada hari senin (rencana awal kami), sudah ada kegiatan yang sama di panti ini. Aku dan sheila sebenarnya tidak masalah, tetapi ke 4 teman ku yang lain tidak dapat menghadirinya, jika kegiatan ini dilakukan pada hari selasa. Dengan menuliskan “Rencana buka puasa bersama” pada buku tamu milik panti (belum fiks, kegiatan ini akan berlangsung), kami pamit pulang karena akan mencari dana lagi. Dengan keramahan, Bapak Acep mengantar kami hingga pintu.
            Sambil duduk-duduk santai di bangku salah satu mall dekat dengan lokasi panti, aku dan Sheila berbincang. Aku berpikir,bagaimana ini? Masa kita melakukan tanpa mereka semua, sedangkan jika kita mencari tempat lain untuk buka bersama tak mungkin, karena aku tidak tahu panti lain.” Kemudian aku bujuk ke 4 teman ku, 2 orang tidak bisa ikut karena satu sakit dan satunya lagi ada agenda lain yang menjadi tanggung jawabnya. 2 orang lain menjawab bersedia untuk menghadiri kegiatan ini. Akhirnya, aku mengirim pesan konfirmasi pada Bapak Acep, bahwa kami Insya Allah jadi datang pada selasa sore untuk mengadakan buka puasa bersama anak-anak panti. Berharap Bapak Acep mencoret kata Rencana pada buku tamu, karena kami sudah fiks. Bismillah aku yakin, karena aku mau, Allah pasti tahu...
            Pada H-1 persiapan sudah hampir rampung, pesanan nasi box sudah fiks, tinggal mencari dana sisanya untuk segera diberikan pada mamanya Sheila, yang kebetulan bisa membantu kami dalam hal nasi box-nya. Hingga siang hari  dana yang kami butuhkan  masih kurang sekitar 5% lagi. Tetapi lagi-lagi, Allah menolong, mama Sheila bersedia untuk menalangi dahulu sementara kekurangan dananya. Pada hari selasa, teteh pementor mengabarkan mendapat dana, yang jumlahnya sangat pas untuk menutupi 5 % kekurangan dana kami. Subhanallah... rampunglah rencana kami, tinggal saja mengambil nasi box dan berjalan menuju panti. Akan tetapi, yang awalnya kami akan berangkat tanpa 2 orang teman kami yang berhalangan, sehingga kami berangkat berlima, kembali kehilangan 1 orang karena tiba-tiba saja tidak bisa datang. Aku sedikit lemas mendengarnya, bagaimana kita jika cuma berempat? Tetapi Alhamdulilah, Allah menggantikan 3 orang teman kami yang berhalangan dengan 2 orang lainnya. Terima kasih ya Allah...
 “Oke, kita berangkat!”
            Dan sekitar pukul 17.00 kami sampai di tempat tujuan, kami awalnya sangat takut tidak bisa diterima disini. Tetapi, apalah artinya selama beberapa hari kebelakang hal-hal yang telah kami kerjakan demi acara ini jika begini saja kecut nyali kami. Salam pembuka kami haturkan, senyum ramah kami suguhkan, berharap kita merekat satu sama lain.Acara demi acara berjalan lancar, hingga merasa tak ada jarak anatara kami, khusnya aku dengan para anak panti, aku berbaur tertawa dengan mereka. Diantara rawa riuh kami bersama mereka. Aku menangis dalam hati, mensyukuri nikmat Allah, yang masih memberikan hidup untuk kedua orang tua ku, Allah yang masih memberika kekuatan pada orang tuaku untuk bisa membiayai ku. Senang tak terkira hari ini, aku bisa melihat anak-anak tegar ini tertawa, berceloteh, bercanda dan berbaur bersama kami. Tanpa terasa Magrib pun datang. Kami berbuka puasa bersama. Sholat magrib berjamah. Kemudian menutup kegiatan ini dengan saling bersalaman.
            Tak ada bingkisan, kami hanya membawa nasi box yang dimakan bersama, dan kami hanya membawa niat ketulusan ingin merangkul mereka dan merasakan tertawa bersama mereka.     
            Terima kasih pada Allah, Pemilik semuanya, Maha Pengatur segalanya, Maha Tahu segalanya, Maha Pemberi dan Maha Penyayang  yang telah membuat segalanya nyata, segalanya yang kecil kemungkinan menjadi terjadi. Kepada teman-teman Elmazaya, pada tangan-tangan yang telah membantu di segala segi sehingga semuanya lancar. Terima kasih Doanya :'D
Wasallamualaikum Wr Wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar